24 September 2009
Belanja Online Pertama
Agak membingungkan juga sudah berusia berapa. Secara dibuat di tahun 2006 tapi baru aktif nulis di 2008. Hehe... Anggap aja usianya 1 tahun aja lah, biar kelihatan muda.
Satu minggu yang lalu coba-coba belanja online. Sebenarnya kurang manteb juga takut ditipu. Ada iklan di fb yang nawarin kaos untuk pasangan. Bagus-bagus juga. Aku pilih yang gambar vespa, tp entah mengapa aku salah klik atau karena salah lihat jadi yang terkirim ke rumahku jadi mickey-minnie. OMG. Parah banget. Kalau buat aku sendiri sih masih mending, pantes untuk cewe'. Lah kalau untuk cowo' masa' tulisannya Mickey :(
Akhirnya aku coba pesan lagi dan benar-benar kuteliti. Sudah benar kaos dengan gambar yang kuinginkan. E.e.e..e waktu mau transfer uang malah offline melulu. Hadhoh jadi a little bit stress nih.
Setelah jam makan siang aku berhasil transfer. Kemudian kutunggu konfirmasi telpon atau sms dari mas Ferry (kalau ngga salah nama pemiliknya itu hehe). Sampai tadi malam belum ada konfirmasi. Bahkan sampai sekarang. Hu hu hu...
Jadi dikirim ngga ya? Padahal mau kupakai tanggal 26 September jew. Jadi harap-harap cemas.
30 Agustus 2009
Apa Arti (sebuah) Nama (ku) ?
Karena teman-temanku hanya sekitar anak-anak lingkup satu kampung dan satu sekolah, keunikan namaku masih bisa dimaafkan. Aku termasuk anak yang terkenal (di kampungku), lumayan karena ada warisan terkenal dari bapak dan mbah kakung :). Jadi orang-orang tidak terlalu susah mengenaliku (dasar sombong, congkak, tinggi hati, umuk, dsb.) Mungkin kemampuan menyebutkan namaku untuk tiap orang juga berbeda. Guru kelasku waktu kelas 6 SD, memanggilku dengan 'fahrul'. Lucu juga. Malah jadi nama yang lain.
Masuk eS eM Pe, siswa baru harus menuliskan nama depan di sebuah papan kertas kemudian diletakkan di atas meja, sebagai identitas singkat agar guru mudah mengenali siswa baru. Waduhh, aku pake nama apa nih. Nama depan gitu lohh!
Pertama kucoba nama depan; wah pendek banget, gimana donk? Yaudah kugabung dengan 2 suku kata nama belakang, jadi a-l-m-u-n-a--w. Eh, ternyata teman-teman ngejekin, apa tuh almuna w. Nama yang aneh. Fyuhh, yaudah lah pake nama panggilanku aja, bukan nama depan; w-a-r-u-l. Sebenarnya yang terakhir ini kupikir lebih aneh lagi. Belum pernah ada sejarah nama begitu...uhhh sedih.
Akhirnya selama 3 tahun di eS eM Pe, semua orang telah mengenal warul, gadis imut, kecil (tapi ngga ingusan loh), ceria, dan cerdas. Siapa lagi yang mau memuji selain diri sendiri?
Masuk eS eM A, perkenalan lagi pake papan nama. Ah, sekarang ganti aja ah jadi a-r-u-l. Biar lebih mudah diingat dan ga ribet. Nama ini yang sampai kuliah dan kerja sekarang masih kupakai setiap berkenalan dengan teman dan komunitas baru. Tapi, teuteup aja ada komentar. Kog mirip nama cowo' yaa. Ahh, masa bodoh nama mirip apa, yang penting tetap terkenal, hehehe.
Ya..anggapan nama cowo' ngga hanya secara langsung oleh teman-teman aja. Pernah kejadian waktu antri di sebuah bank milik pemerintah (B**), teller memanggil namaku. Wah, sudah giliranku nih. Tapi yang ngga enak embel-embel di depannya itu. Teller memanggil namaku dengan diawali 'Pak'. Kemudian kudatangi sang teller dan ku tersenyum padanya. Dia pun kaget tapi membalas senyumku kemudian memanggilku mbak. Setiap ingat kejadian itu aku bisa tersenyum-senyum sendiri.
Nasib 'salah ruang' ngga hanya berhenti di situ aja. Waktu aku ikut tes observasi di salah 1 BUMN dan tiba saat pembagian home stay, panitia memasukkanku dalam kelompok yang semuanya laki-laki sedang aku perempuan. Padahal kalau kelompok home stay itu kan hubungannya dengan menginap, tidur, mandi, dsb. Untunglah masih bisa diralat. Kalo ngga, bisa di sarang penyamun.
Nah..saat penerimaan di tempat kerjaku sekarang, kebetulan di setiap nomor ujian ada petunjuk jenis kelamin, jadi ngga 'salah ruang' lagi deh. Hanya saja saat hari pertama masuk, justru yang salah kira adalah teman sesama pegawai baru. Kami ber-10 terdiri dari 4 laki-laki dan 6 perempuan. Beberapa dari mereka mengira kami terdiri dari 6 laki-laki dan 4 perempuan. Tentu saja salah satu yang dikira laki-laki adalah aku.
Di tempat kerjaku sekarang malah nama panggilanku ngga jelas. Kayaknya sudah jadi hak orang lain untuk menentukan aku mau dipanggil apa. Ada yang memanggil Al, Arale (aku suka sama tokoh arale di felm kartun dr. Slump), Arul (ada juga yang tetap panggil nama itu), dan bahkan Wami. Beuhh, dari mana lagi ni sumbernya?
Mau tahu sumber atawa asal muasalnya dari mana? Sewaktu Subbag Umum membuatkan name tag, namaku salah cetak menjadi al munawami. Bisa-bisa aja tuh yang bawa ke percetakan. Meski akhirnya diganti dengan nama yang benar, tetap saja kesalahan nama itu sudah beredar dan teman-teman mulai memanggilku dengan nama Wami. But its okay, just funny.
Well, thats all for now perjalanan namaku.
Hampir lupa. Aku belum cerita asal-usul namaku ya. Darimana orang tuaku mendapat wangsit menemukan nama yang indah itu? Hmm, sebenarnya Bapakku terinspirasi oleh nama pujaannya jaman dulu, hohoho. Ngga sama sih, cuma mirip. Pemilihan nama itu sempat membuat ibuku marah (gosipnya). Tapi sewaktu kutanya ibu apa arti namaku, beliau mengartikannya sebagai 'anak perempuan yang lurus'; ngga macem-macem maksudnya. Amin aja lah. (Meskipun aku sempat mendengar cerita yang lucu sebelumnya ^^)
Saat ini aku ngga minder lagi dengan namaku, karena namaku unik, ngga pasaran, dan banyak kenangan lucu. Dan dengan namaku aku memberikan identitasku, seperti IP address, unik.
Trimakasih buat Bapak Ibu :)
19 Agustus 2009
Bapak Sepatu Boot Itu ...
Kami sering memuji jika ada kejadian yg menarik, tertawa jika ada yang lucu, dan berkomentar jika ada yang unik. Salah satunya saat ada pengendara motor yang selalu menggunakan setelan lengkap; motor dengan kaca penahan angin, jaket tebal, rompi anti peluru, helm standar, dan sepatu boot.
"Eh, Al, lihat deh bapak itu, pakaiannya lengkap banget!" seru Iyem saat kami menyalip bapak sepatu boot. Bapak sepatu boot? Ya, begitulah kami menyebutnya.
"Iya, kita selalu bisa menyalipnya," ucapku girang karena selalu bisa mendahuluinya.
Saat kami berangkat pagi kami bisa menyalipnya di titik yang sama. Tapi akhir-akhir ini kami sering berangkat lebih siang, jadi baru bisa menyalip di titik yang lebih dekat dengan kantor.
Kemudian suatu hari kami mulai terusik dengan bayang-bayang bapak sepatu boot, yang sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat dan sepertinya tidak asing lagi. Benarlah kecurigaan kami selama ini. Sesaat setelah memarkir sepeda motor, kami melihat sosok dengan jaket dan rompi anti peluru lengkap dengan sepatu boot-nya sedang memasukkan jari telunjuknya di alat pemindai sidik jari di kantor.
Ya ampyuun, kemana aja kami selama ini. Ternyata bapak sepatu boot adalah senior kami. Orang-orang biasanya memanggilnya Mbah Lim. Mbah Lim hebat. Usia beliau sudah mendekati pensiun tetapi masih kuat mengendarai sepeda motor tiap hari bolak-balik rumah-kantor total +/- 2 jam dengan kecepatan pelan. Saya salut padanya karena begitu memperhatikan kelengkapan untuk keselamatan mengendara.
Sampai jumpa lagi di jalan pintas, Mbah Lim. Kapan-kapan balapan yuks.